Kaldera Toba Resmi Ditetapkan Sebagai UNESCO Global Geopark

Dewan Eksekutif UNESCO yang berpusat di Paris menyepakati Kaldera Toba sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) dalam Sidang ke-209 Dewan Eksekutif UNESCO 7 Juli 2020. Kaldera Toba menjadi surga studi geologi kaldera dunia dan juga surga pariwisata. Letusan maha dahsyat Gunung Toba pada 74.000 tahun lalu menciptakan kaldera raksasa, yang kemudian terisi air dan menjelma menjadi Danau Toba. menjadi Danau Toba. Kini, Kaldera Toba menjadi surga

Danau terbesar di dunia ini mempunyai ukuran panjang 87 kilometer, lebar 27 kilometer, dan kedalaman 505 meter. Lokasinya terletak sekitar 176 kilometer arah barat Medan.Banyak tradisi budaya yang disuguhkan di kawasan Danau Toba, seperti Festival Danau Toba yang berlangsung setiap Tahun. Danau yang tercipta dari erupsi Gunung Toba Purba ini memiliki keragaman hayati (biodiversity), geologi (geodiversity), dan budaya (culturdiversity)

UNESCO meyakini bahwa Kaldera Toba memiliki kaitan geologis dan warisan tradisi yang tinggi dengan masyarakat lokal khususnya dalam hal budaya dan keanekaragaman hayati. Dalam konteks inilah, negara anggota UNESCO mendukung Kaldera Toba dilestarikan dan dilindungi sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark. “Melalui penetapan ini, Indonesia dapat mengembangkan geopark Kaldera Toba melalui jaringan Global Geoparks Network dan Asia Pacific Geoparks Network khususnya dalam kaitan pemberdayaan masyarakat lokal,” tutur Dubes RI untuk Prancis Arrmanatha Nasir, setelah penetapan Kaldera Toba.

Penetapan Kaldera Toba sebagai UNESCO Global Geopark, memberikan kesempatan dan sekaligus juga tanggung jawab bagi Indonesia, khususnya bagi masyarakat setempat.


Penetapan Kaldera Toba, dapat mendorong pengembangan perekonomian dan pembangunan berkelanjutan di Kawasan tersebut. Melalui pengembangan geo-pariwisata yang berkelanjutan, terbuka peluang bagi masyarakat setempat untuk promosi budaya, produk lokal serta penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih luas.

Pada saat yang sama, dengan adanya pengakuan dan perhatian dunia terhadap Kaldora Toba, Pemerintah dan masyarakat setempat berkewajiban untuk meningkatkan dan terus menjaga kelestarian lingkungan dan keutuhan dari Kawasan Kaldera Toba.


Kaldera Toba berhasil masuk daftar UNESCO setelah dinilai dan diputuskan oleh UNESCO Global Geoparks Council pada Konferensi Internasional UNESCO Global Geoparks ke-IV di Lombok, Indonesia, pada tanggal 31 Agustus-2 September 2019.

Enam Rekomendasi UNESCO Harus Dijalankan


“Dengan masuknya danau vulkanik terbesar di dunia itu (Danau Toba) menjadi bagian dari UGGp maka akan menjadi pintu baru pengembangan Danau Toba. Jadi enam rekomendasi UNESCO itu harus dijalankan,” ujar General Manager BP GKT (Geopark Kaldera Toba) Hidayati, di Medan 9/7.

Didampingi Wakil GM BP GKT, Gagarin Sembiring, Hidayati menyebutkan penetapan GKT sebagai UGGp selama empat tahun, ada enam rekomendasi UNESCO untuk Kaldera Toba.

Pertama, mengembangkan hubungan antara warisan geologis dan warisan teritorial lainnya seperti biotik alami, budaya, tidak berwujud melalui interpretasi, pendidikan dan wisata. Termasuk melatih pemandu lokal, pariwisata, operator dan masyarakat setempat, dan lainnya.Kemudian tentang tautan antara geologi dan ekologi untuk diaktifkan berbagi pengetahuan dengan pengunjung.


Kedua, mengembangkan strategi kemitraan yang mencakup metodologi dan kriteria yang jelas untuk menjadi mitra. Hal itu berlaku untuk akomodasi, katering, penyedia transportasi, penyedia aktivitas dan produsen produk lokal.


Ketiga, memperkuat keterlibatan dalam aktivitas Global Geoparks Network dan Asia Pasifik Jaringan Geoparks untuk mempromosikan nilai internasional wilayah melalui kemitraan dengan Global Geoparks di bawah payung Global Geoparks UNESCO.

Keempat, mengembangkan strategi pendidikan dengan bekerja dalam kemitraan dengan UGGp lainnya. Kelima, meningkatkan strategi dan kegiatan pendidikan untuk memfasilitasi mitigasi bahaya alam dan oerubahan iklim di sekolah-sekolah dan untuk populasi lokal. Serta keenam, memperkuat keterlibatan UGGp dalam studi penelitian, konservasi dan promosi penduduk asli setempat dan budaya serta bahasa mereka.

“Enam rekomendasi itu akan segera dijalankan GKT. Masuknya GKT menjadi UGGp sangat membanggakan dan akan menguntungkan Sumut dalam banyak hal khususnya di sektor pariwisata, ” kata HIdayati.

Investor dan wisatawan mancanegara diyakini akan semakin tertarik dengan kawasan Danau Toba. Seperti destinasi wisata danau toba menjadi iconic Kaldera Toba yakni The Kaldera Toba Nomadic Espace yang berlokasi di Desa Sigapiton Kabupaten Tobasa, Kira-kira sekitar 45 Menit dari Bandara Internasional Silangit.
Juga pembangunan Toba Kaldera Resort yang dikelola Badan Otorita Danau Toba (BODT) di Kaldera BPODT Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir Sumatra Utara(14/19/2019). Total 386,72 Ha sudah dilepaskan oleh kementerian lingkungan hidup untuk menjadi BODT atau lahan zona otorita sesuai Perpres nomor 49 Tahun 2019
Kaldera Toba mencakup 7 kabupaten sekawasan Danau Toba, yakni Samosir, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Simalungun, Dairi dan Karo.
Geopark Kaldera Toba terdiri 16 geosite, yakni:

  1. Geosite Sipisopiso-Tongging (Kabupaten Karo).
  2. Geosite Silalahi-Sabungan (Kabupaten Dairi).
  3. Geosite Haranggaol (Kabupaten Simalungun).
  4. Geosite Sibaganding (Kabupaten Simalungun).
  5. Geosite Taman Eden (Kabupaten Toba Samosir).
  6. Geosite Batu Basiha-TB Silalahi Balige (Kabupaten Toba Samosir).
  7. Geosite Situmurun (Kabupaten Toba Samosir).
  8. Geosite Hutaginjang (Kabupaten Tapanuli Utara).
  9. Geosite Muara Sibandang (Kabupaten Tapanuli Utara).
  10. Geosite Sipincur (Kabupaten Humbang Hasundutan).
  11. Geosite Bakara-Tipang (Kabupaten Humbang Hasundutan).
  12. Geosite Tele (Kabupaten Samosir)
  13. Geosite Pusukbuhit (Kabupaten Samosir).
  14. Geosite Hutatinggi Sidihoni (Kabupaten Samosir).
  15. Geosite Ambarita-Tuktuk-Tomok (Kabupaten Samosir).
  16. Geosite Danau (pemersatu seluruh kabupaten sekawasan)